Tanda-tanda Akhir Zaman oleh Pdt. J Awondatu, GPdI Cianjur.

Februari 16, 2009 pukul 1:43 am | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

TANDA-TANDA AKHIR ZAMAN

Haleluyah. Selamat berbakti lagi dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Kita akan meneruskan pelajaran kita dari Injil Lukas 

17:28 Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun.
17:29 Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua.
17:30 Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya.
17:31 Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali.
17:32 Ingatlah akan isteri Lot!
17:33 Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.
17:34 Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.
17:35 Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.”
17:36 (Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.)
17:37 Kata mereka kepada Yesus: “Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka: “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar.”

Di dalam ayat ke-28 kita membaca: Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot.

Pada saat itu, Tuhan Yesus mau menerangkan seperti apa kedatangan Yesus yang kedua kali. Coba saudara renungkan. Dua ribu tahun yang lalu Yesus mengajar ini sama murid-murid-Nya. Murid-murid sudah mati sekarang. Tetapi Dia pesan ini kejadian akhir zaman akan jadi seperti zaman nabi Nuh dan zaman Lot. Orang yang diajar sama Yesus itu sudah mati. Jadi sebetulnya Tuhan Yesus mengajar ini, mata-Nya sudah jauh melihat ke zaman akhir, ke zaman kita sekarang ini.

Jadi kita yang dituju oleh nubuatan ini, yang dituju oleh Yesus. Haruslah kita ini yang memperhatikan kata-kata ini! Karena murid-murid-Nya sudah meninggal. Rasul-rasul sudah tidak ada lagi. Bapa-bapa gereja saja sudah tidak ada lagi. Yang lahir tahun 1900 saja sudah hampir tidak ada lagi. Jadi kenapa ini ayat diajarkan sama Yesus kepada murid-murid-Nya? Mata-Nya Dia sudah lihat jauh. Kebaktian kita ini, Dia sudah lihat jauh-jauh waktu. Kita belum lahir, Dia sudah lihat kebaktian ini, bahwa pada hari ini, tanggal sekian, bulan sekian, tahun sekian, akan ada sekelompok orang berkumpul dan akan mendengarkan firman Tuhan. Dan sekarang untuk merekalah pesan ini, yaitu untuk saudara dan saya.

Dia berkata begini: Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot.

Yang pertama ada pada zaman nabi Nuh. Yang kedua ada pada zaman Lot. Nuh dengan Lot, dia hidup di zaman yang berbeda. Nuh itu sebelum Abraham. Lot itu pada masa Abraham. Nuh itu jauh pada awal-awal pertama. Lot itu ada zaman setelah Abraham. Kalau kita membaca kembali apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, ayat 26,

17:26 Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia:
17:27 mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua.

Ada dua tanda pada zaman nabi Nuh, yaitu orang makan dan minum. Ini tanda di akhir zaman, kata Tuhan Yesus. Dan yang kedua itu kawin dan dikawinkan. Kawin mawin, bahasa Indonesia lama lebih tepat, kawin mawin. Jadi kawin tidak satu kali, dia senang kawin berkali-kali. Itu tanda orang di akhir zaman. Perceraian dianggap lumrah. Orang yang sudah kawin dua puluh lima tahun, dua puluh enam tahun, cerai begitu saja tidak ada beban sekarang ini. Itu sudah tanda akhir zaman.

Tetapi dalam zaman Lot, mereka juga makan, minum … sama sudah ditulis. Mereka membeli dan menjual. Yang ketiga kita lihat, di zaman Lot membeli dan menjual atau jual beli. Kemudian perhatikan ayat berikutnya, mereka menanam dan membangun.

Jadi kalau saya ringkaskan, yang pertama adalah soal makanan di akhir zaman. Yang kedua, soal perkawinan. Yang ketiga, soal bisnis. Dan yang keempat, soal saham atau pembangunan. Menanam bukan hanya menanam pohon tetapi menanam saham, menanam modal.

Dan empat hal ini justru yang sekarang ini paling digembar-gemborkan. Tuhan taruh nomor satu adalah soal makanan, minuman. Luar biasa sekali sekarang soal makanan. Dulu pada tahun 60-an, kami mengungsi ke rumahnya mertuanya oom Rompas karena kami lagi bangun gereja. Ini lagi dibangun. Kebaktian dirumahnya Ma Idang di jalan Cikidang. Dan kami mengungsi di rumahnya Ibu Gan Cun Nio … itu ada keong racun. Oh, mama saya paling, awas itu beracun, keong racun itu, kasih garam. Kita kasih garam, dia jatuh, lalu dibuang.

Saya tidak tahu bahwa pada tahun 90-an, keong yang sama, itu jadi makanan paling mahal di Perancis. Bahkan ada orang berbudi daya keong. Lalu setelah itu dipak, dikirimkan ke Perancis. Dan orang Perancis paling suka makan keong. Dan keong ini harganya mahal sekali. Jadi betul apa kata Tuhan, orang akan berbicara makan dan minum.

Yang kedua perkawinan, kawin-mawin. Sekarang orang nggak sabar nunggu, ingin cepat kawin. Sama seperti lagu zaman dulu, zaman saya main band, ada Oslam Husein nyanyi sama si Alwie … Eh mama .. Saya mau kawin .. Kawin sama siapa? .. Sama siapa saja. Sama siapa saja nggak penting, pokoknya kawin. Itu tahun 60-an. Sekarang sudah 2007, sudah empat puluh tahun. Apa yang dinyanyikan oleh Oslam Hussein, nggak ketinggalan, sekarang orang pakai perkawinan jadi mainan. Perkawinan yang kudus, pernikahan yang kudus jadi mainan. Orang tidak menghargai perkawinan sebagai sesuatu yang sakral, sesuatu yang sangat dihormati, sesuatu yang sangat kita takut kepada Tuhan. Karena ini adalah salah satu sakramen kudus di dalam gereja, yaitu kita menikah.

Dan kita tidak bisa cerai lagi, hanya maut yang memisahkan kita berdua dengan istri dan atau suami kita. Tetapi lihat harganya perkawinan sekarang, diobral murah. Pada tahun 50 di Amerika, sepuluh orang menikah, satu cerai. Pada tahun 90-an, tiap tiga perkawinan satu cerai. Sekarang di Amerika, rata-rata ya, tentu ada orang kristen yang baik. Rata-rata sekarang ini, satu perkawinan dua cerai. Jadi perceraian lebih banyak dari yang menikah.

Waktu saya di Belanda, pendeta Belanda bilang begini sama saya: Jangan khotbah tentang homoseks, ya, sebab homoseks sudah diijinkan oleh pemerintah Belanda. Aduh, saya bilang, ini kebenaran firman Allah mau disunat, nggak boleh khotbah mengenai homoseks. Homoseks termasuk lesbian, termasuk kepada kawin-mawin. Lelaki sudah tidak suka dengan perempuan, dia senang sama lelaki. Perempuan tidak suka sama lelaki, dia senang sama sesama perempuan. Itu dosa yang paling Tuhan benci, najis. Sampai tempat tidur harus dibakar. Orangnya yang berbuat juga harus dibakar. Sampai begitu waktu zaman Taurat. Tuhan tidak suka.

Lihat sekarang, orang yang lesbian, orang yang homoseks, wah, di televisi jadi hebat. Orang yang kawin cerai laku. Saudara lihat ada satu selebritis, muka sih sudah biasa, mukanya muka pasaran. Tapi kawin cerai sampai tiga kali. Dia bangga. Dia anggap kawin itu semacam hobi. Dia anggap seperti mengumpulkan koleksi. Itu sudah mulai dari zaman perempuan Samaria. Dia ngoleksi suami, sampai suaminya lima. Dia tidak tahu harganya kudusnya perkawinan. Jadi itu akan kembali lagi di akhir zaman.

Lalu Yesus bilang zaman Lot orang membeli dan menjual. Jual beli akan luar biasa.

Baru-baru ini ribut Amerika dengan Tiongkok, ribut. Sebab sekarang yang polusi udara, yang bikin udara kotor di seluruh dunia, satu negara yang paling kotor, pabriknya banyak justru di Tiongkok. Kedua, Amerika. Jadi Amerika marah-marah, Tiongkok ini mengotori udara. Di dunia paling parah, pabrik-pabriknya wah kotor sekali ini Tiongkok. Balas Tiongkok, ini perusahaan siapa punya? Ini perusahaan Amerika punya. Kenapa Amerika bikin perusahaan di Tiongkok? Bikin pabrik di Tiongkok? Karena tenaga kerja murah. Jadi kamu jangan ngomel sama kami, pabrik ini justru pabrik kamu. Wah, ramai ini semua.

Tetapi inilah orang, menanam dan membangun. Menanam saham. Membeli dan menjual. Di mana-mana. Saya nggak suka perhatikan, tapi akhir-akhir ini di televisi ada menanam dan membangun. Menanam saham. Orang paling kaya di dunia itu umur sebelas tahun, dia sudah belajar beli saham. Jual saham, untung. Sampai sekarang. Dia tidak punya bisnis, handphone saja dia tidak pakai. Dia tidak pake handphone, dia tidak punya kantor, tapi dia paling kaya di dunia. Matanya jeli. Kalau lihat ada kesempatan, ini barang lagi naik di sini, di sini lebih murah. Dia beli yang murah di sini, jual di sana.

Handphone saja dia nggak pakai, tapi dia paling kaya di dunia. Menanam saham. Lain dengan Yesus. Yesus bilang, taruhlah hartamu di sorga di mana tidak ada gegat dan karat, di mana tidak ada pencuri membobol rumah.

Ada teman saya dari Bandung dia cerita, wah teman saya sekarang lagi punya toko emas. Dia sewa satpam 2 orang. Saya bilang, satpam biar 4 orang satu toko, nggak ada gunanya. Seperti di toko emas ABC di jalan Pasir Koja. Yang ngerampoknya 8 orang, senjata lengkap dan yang punyanya nggak ditanya, nggak ditanya keluarin emas, nggak, ditembak saja dor kepalanya. Emas-emasnya diambil. Datang orang nggak salah apa, tembak, dor. Mau apa saudara?  

Tapi ini akhir zaman, orang menanam dan membangun. Lihat pembangunan sekarang, tidak kesamping. Ke atas. Apa yang dikatakan Tuhan? Roh Babylonia ketika Nimrod mau membangun gedung bertingkat tinggi, sekarang sudah. Malaysia mempunyai Twin Tower terkenal. Indonesia tidak mau kalah, dia mau ikut, dia mau bikin lagi. Nggak punya duit tapi dia mau bikin tertinggi di dunia. Ini di Jakarta mau bikin.

Tapi diduluin sama George Bush. George Bush bilang: Kami merdeka pada tahun 1776. Maka gedung di tempat di mana yang dihantam waktu 2001 itu,  kami akan bangun satu gedung. Tingkatnya seribu tujuh ratus tujuh puluh enam meter, paling tinggi di dunia. Indonesia? Belum bangun sudah disaingi sama Amerika. Inilah pembangunan zaman sekarang. Saya itu sedih lihat sawah-sawah. Dibeli sama orang, dibangun pabrik. Dulu kalau saya lihat Karawang itu hijau, gudangnya sawah, hijau, sekarang hampir nggak. Pabrik-pabrik Honda, semua Korea, semua Jepang di situ. Dulu kita ini ekspor beras, sekarang kita impor beras. Lihat Vietnam. Vietnam dihancurkan dalam peperangan dengan Amerika. Tapi kita impor beras dari Vietnam. Vietnam nggak bikin mobil. Dia nggak mau bikin motor. Dia nggak bikin pabrik. Tapi dia bikin pertanian.

Tapi orang di akhir zaman akan menanam dan membangun. Jadi saya yakin menanam ini bukan menanam pohon. Menanam modal dan membangun. Nggak sadar, tidak lama lagi akan dihukum. Kita baca terus.

Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom, turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. But on the day that Lot went out of Sodom it rained fire and brimstone from heaven and destroyed them all.

Maaf saudara, dalam bahasa Inggris bukan hujan api dan hujan belerang. Brimstone itu batu-batu yang menyala. Bukan hujan api tapi batu-batu yang menyala itu menghukum, turun ke atas Sodom Gomora, waktu itu setelah Lot keluar … membinasakan semua ini. Membinasakan apa terjadi pada zaman Nuh dan pada zaman Lot ini.

Jadi sekarang katanya Tuhan, seperti zaman Nuh dan zaman Lot, demikian juga kedatangan Tuhan yang kedua kali, maka Tuhan tidak akan lagi menghukum dengan banjir tetapi dengan api. Dikatakan bahasa Indonesia selalu memakai kata belerang. Saya tidak suka dengan kata belerang, tetapi brimstone. Karena dari langit dan membinasakan mereka semua, destroyed, menghancurkan mereka semua.

Mari kita belajar dari sejarah. Kita belajar dari tsunami di Aceh. Tsunami di Aceh hanya dalam hitungan detik, nggak sampai satu menit, dua ratus empat puluh ribu orang mati di delapan negara, yang paling besar di Indonesia. Apa susahnya Tuhan mau menghancurkan dunia? Dia hanya pakai satu tsunami saja. Hanya satu tsunami yang lebih kecil saja, Pangandaran habis. Satu tsunami kecil lagi, gempa sedikit, Yogya habis, Bantul semua habis.

Hanya dengan satu lumpur Lapindo saja, tidak ada satu insinyur dunia yang sanggup menghentikannya. Panggil ahli dari Jepang, dibayar mahal sama Bakrie. Tolong hentikan. Diselidiki. Maaf, katanya, dia baru berhenti nanti setelah empat puluh tahun. Nangis presiden, sampai nangis. Tapi nangisnya presiden nggak bisa menutupi nangisnya rakyat, empat belas ribu orang. Rumahnya tenggelam, pekerjaan ambles semua, anak keleleran, tidur tidak tahu di mana. Belum kiamat loh, saudara. Belum kiamat.

Jadi hari ke depan ini kita musti waspada. Dekatkan diri kepada Tuhan, karena hanya Dia yang melindungi kita. Hanya Dia yang menolong kita. Hanya Dia yang menyeberangkan kita pada waktu banjir. Hanya Dia yang menolong kita pada waktu orang tidak bisa menolong.

Saudara mau nggak beli rumah tingkat 3, kaya begini nih tingkat 3, … besarnya seperti ini, 6 juta rupiah. Saudara mau nggak? Ini saya ngomong bener, loh. Saya kok pikir-pikir aduh saya kalau beli bisa nggak ya saya beli 1 apa 2 gitu, rumah kaya begitu, 1,2,3 sekalian, siapa tahu nanti jadi beres. Murah saudara. Dan itu kira-kira 4-5 kilo meter rumah-rumah dijual di Porong. Dijual. Tingkat 3. 6 juta. Betul saudara. Enam juta rupiah. Tapi kosong semua rumah. Debu di sana sini. Di depan itu rel kereta api, sebelah kanan rel kereta api itu tanah 8 meter. Nah, di sebelah tanah 8 meter itulah lumpur Lapindo. Ini kosong, saudara. Kosong. Maka saya nggak bohong saudara punya uang 6 juta, beli rumah di sana. Murah. Kenapa saya pakai contoh itu.  

Ketika api Tuhan turun, ini semua tidak ada gunanya lagi. Kita tidak bisa makan minum di dekat lumpur Lapindo. Kita tidak bisa kawin-mawin di dekat lumpur Lapindo. Kita tidak bisa membeli, menjual. Nggak laku, rumah tiga tingkat enam juta, nggak laku, sama tanahnya, loh. Menanam dan membangun tidak ada lagi. Baru Lapindo. Belum Hari Tuhan.

Maka elinglah saudara, saya pakai kata eling. Eling itu waspada, sadar. Jangan kemaruk. Kemaruk pangkat, kemaruk harta, kemaruk kedudukan. Ngeri saya sekarang melihat hari-hari ini, ngeri. Saya nggak usah ngeliat dunia, liat gereja saja saya sudah ngeri sekarang. Lihat keadaan gereja sekarang, ngeri. Nggak tahu mau ke mana ini gereja. Berat.

Kalau saya bilang, kata berpegangan kepada tali. Tapi saya mau pakai bahasa sunda, urang teh kudu muntang … musti berpegangan. Muntang itu nggak ada yang lain, hanya satu itu tali. Urang kudu muntang. Hanya pegang tali kasih dari Yesus. Pegang itu, saudara-saudara, karena ini adalah akhir zaman. Berikut ayat 30,

17:30 Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya.
17:31 Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali.

Karena apa? Kerusakan ini yang datang dari Tuhan, itu jalannya cepat. Jadi kalau saudara kembali dulu ke rumah, nggak keburu. Kalau saudara turun dulu dari loteng ke bawah, ambil barang, nggak keburu. Saya mau gambar itu rumah zaman dulu. Kalau ini gunung, rumah-rumah orang zaman dulu itu kaya ruko sekarang. Terus ini sampai kepada tempat pelarian. Sekarang itu ruko. Luar biasa. Tuhan nggak nulis ruko tapi Dia sudah bilang. Orang itu kalau malam dia suka duduk-duduk di atas sotoh rumah, loteng. Nah, ini disebut peranginan, cari angin. Mereka kan nggak ada AC. Mereka duduk-duduk di sana, bisa ngobrol sama tetangga sebelah.

Ketika ada itu hukuman dari Tuhan, yang ada di peranginan jangan turun ke bawah, … nggak keburu. Tetapi larilah. Karena ini nyambung bangunan, mereka berlari di atas bubungan ini, berlari sampai ke gunung. Untuk melarikan diri dari segala kehancuran ini. Orang yang ada di ladang, jangan dulu pulang ke rumah, nggak keburu. Lari ke gunung. Mari kita buka Matius

24:15 “Jadi apabila kamu melihat Pembinasa keji berdiri di tempat kudus, menurut firman yang disampaikan oleh nabi Daniel–para pembaca hendaklah memperhatikannya–

Apa ini Pembinasa keji? Pada tahun 70, Jenderal Titus itu meratakan Yerusalem. Dia bakar semua Yerusalem sampai Bait Allah semua dirobohkan. Karena sudah dinubuatkan oleh Yesus. Tetapi ini yang disebut ini Daniel. Daniel tidak mungkin menubuatkan Titus. Dia pakai huruf P besar, Pembinasa keji. Pembaca hendaklah memperhatikannya apa yang ditulis oleh Daniel itu.

24:16 maka orang-orang yang di Yudea haruslah melarikan diri ke pegunungan.

Saya perhatikan pemuda-pemudi, remaja, sebelum ada acara kebaktian hari minggu, mereka suka latihan hari sabtu. Mereka latihan dulu, nyanyinya apa. Sebelum penyanyi Kineret itu nyanyi, anak-anak sekolah minggu, latihan dulu di rumah gurunya. Latihan dulu, sudah latihan, baru ada pertunjukannya. Jenderal Titus itu seperti latihan. Orang yang tinggal di Yudea, berarti di Yerusalem waktu itu, harus melarikan diri ke pegunungan.

24:17 Orang yang sedang di peranginan di atas rumah janganlah ia turun untuk mengambil barang-barang dari rumahnya,
24:18 dan orang yang sedang di ladang janganlah ia kembali untuk mengambil pakaiannya.
24:19 Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu.

Karena dia menyusu bayi, nggak bisa lari cepat. Dan sejarah menyatakan Jenderal Titus pakai pedang – maaf bicara – dia potong perut orang yang hamil. Dia potong perut. Bayi-bayi dibunuh, tidak ada belas kasihan. Tetapi ini baru latihan. Ini gambaran dari jahatnya, kejamnya, kejinya antikristus di akhir zaman ini. Berikutnya,

24:20 Berdoalah, supaya waktu kamu melarikan diri itu jangan jatuh pada musim dingin dan jangan pada hari Sabat.

Itu untuk Titus. Tetapi untuk antikristus berdoalah begini, saudara: Tuhan, jangan sampai pada waktu Engkau datang, saya ini nggak siap. Jangan jadikan saya ini lima perawan yang bodoh, punya pelita tapi tidak ada minyak. Ke gereja, ke gereja tetapi tidak siapkan minyak, tidak mempunyai Roh Kudus sehingga pelita itu padam. Nah, pelita itu menyala kalau ada minyak. Pelita itu kasih. Ketika kasih tidak mempunyai Roh Kudus, padam. Tapi kalau ada Roh Kudus, pelita kasih itu akan menyala. Kita kembali kepada Lukas.

Dalam Lukas itu dikatakan, ingatlah akan istri Lot. Saya yakin semua saudara sudah tahu cerita istri Lot. Lot sudah berangkat. Istri-istri saya mau tanya, kalau bikin KTP, ditanya di KTP pekerjaannya apa? Turut suami. Suka begitu. Ini istri Lot, di KTPnya nggak turut suami. Suami sudah keluar dari Sodom Gomora. Sudah dibilang, jangan nengok. Jadi suami bagaimana, dia mau nengok, istri saya ikut apa nggak, ya? Nah, dari situ kita ambil pelajaran, keselamatan tidak ada hubungan dengan suami atau istri.

Istri nggak bisa ngomong sama Tuhan: Tuhan, itu suami saya itu yang selamat. Tuhan, itu suami saya. Kalau dia masuk sorga, masa saya nggak? Itu suami saya. Saya istrinya dia. Maaf anak-Ku, suamimu ikut Aku. Tapi kamu ikut diri sendiri. Nah, ini istri Lot. Ingat istri Lot. Orang sudah pada keluar. Dia sudah keluar dari Sodom, dia nengok ke belakang.

Ini pesan akhir zaman dari Roh Kudus: Jangan nengok ke belakang. Yang sudah tinggal sudah. Kalau kita sukses dulu, puji Tuhan. Sudah, jangan diingat-ingat lagi. Kalau kita gagal dulu, ya sudah, jangan diingat-ingat lagi.

Dulu kita suka begini, suka begitu, ya sudah, sudah jangan diingat-ingat lagi. Lihat keluar. Biar sodom Gomora, dunia, tinggal di belakang. Kita sedang ikut Yesus. Saudara mau ikut Yesus? Jangan nengok lagi ke belakang, jangan mundur lagi. Jangan nengok. Nengok saja sudah jangan. Ingat istri Lot. Apa peribahasanya? Peribahasanya bicara begini: Istri Lot sudah keluar dari Sodom Gomora tapi Sodom Gomora tidak keluar dari hatinya.

Saudara ke gereja, saudara bukan orang dunia, saudara datang di gereja, kebaktian tapi keduniawian masih tinggal di hati kita.

Mungkin saya salah sama Tuhan. Sebulan ini saya ini lagi nunggu-nunggu, Tuhan, apa saya sekarang sedang disiapkan oleh Tuhan mau dipanggil? Sebab kok badan saya ini nggak enak terus. Tapi saya musti terima tamu. Orang datang. Masa kita bilang, jauh-jauh datang itu ditolak. Tapi badan saya nggak enak. Tuhan, apa Engkau mau ambil saya ini?

Seperti sekarang, saya nggak makan siang tapi saya nggak lapar. Makan pagi saya tidak makan, hanya karena ada tamu tadi di Yayasan. Ya sudah temenin dia. Lidah saya pahit. Dada saya suka sakit, taruh koyo. Dicabut koyo, jadi gatal sekarang. Kenapa saya badan jadi begini?

Tuhan, apa saya Tuhan mau minta saya pulang? Saya harus siapkan diri. Sebab kematian itu nggak pilih orang, nggak pilih umur, nggak pilih jemis kelamin. Oh, tahun 2006 yang pada mati perempuan semua ya, kata Tuhan. Perempuan pada mati semua. Tahun 2007 musim lelaki yang mati semua. 2008 banci yang mati. Nggak. Dia nggak lihat jenis kelamin.

Saya itu sampai sekarang masih ginggiapeun anaknya pendeta Paulus Haryanto. Anaknya tinggi kasep, dari kecil mengalah terus. Anaknya putih. Tetapi setelah dia besar, tinggi besar, badan besar. Dia menikah. Saya tidak hadir. 13 hari menikah, dia meninggal. Waktu saya lihat jenazahnya, biru. Baru menikah .. meninggal. Sampai saya bilang: Aduh, Tuhan, kok gini ya rencana Tuhan. Bisa kecewa kita. Tapi orang tuanya begini, mamanya begini, sudah, sudah senang, oom, dia sudah senang. Saya sudah pasrah. Kita orang beriman harus begitu.    

Maka saudara, biar kita hidup sehari-hari, biar lagi dagang, kita itu musti siap selalu. Kapan Tuhan panggil, saya nggak lagi berdosa. Saya lagi bener, saya lagi ikut Tuhan sungguh-sungguh.

Ngeri kalau kita lihat cerita ini. Tapi jangan takut, yang jaga saudara justru yang menulis buku ini. Tuhan Yesus Kristus yang memberikan. Itu memberikan warning supaya kita siap.

Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Bahasa Inggris, siapa yang mencari untuk menyelamatkan hidup justru dia akan kehilangan, tapi siapa yang seolah-olah kehilangan hidup dia akan memilikinya.

Saya tidak bisa terangkan lebih jauh, tapi saya mau cerita satu cerita. Yang cerita ini mama saya, dan ini kejadian betul diaminkan oleh satu ibu yang sama-sama kita ke Tiongkok. Lalu saya tanya cerita ini yang mama saya cerita, bener apa nggak? Bener. Jadi mama saya itu hari minggu, jemput anak-anak sekolah minggu mau ke gereja. Dia jemput satu keluarga yang punya lima anak sekolah minggu. Tante, saya mau jemput ini anak-anak. Keluar suaminya, marahin mama saya. Kamu nggak tahu ini zaman perang? Kamu nggak tahu ini sekarang di mana-mana perang? Mau ke gereja, ke gereja apanya? Mau mati? Kalau anak saya mati, siapa tanggung jawab? Maaf, oom. Mama saya bilang maaf. Dia jalan. Nangis berjalan.

Sampai di kebaktian, oh betul, wah Inggris datang dan bom. Karena di situ banyak Jepang. Sembunyi semua anak sekolah minggu sembunyi dikolong-kolong kursi, saudara. Di sebelah gereja itu ada sumur. Itu bom jatuh ke sumur, nggak meledak. Sampai sudah perang lewat, sudah, bangun semua, anak-anak sekolah minggu selamat tidak ada apa-apa. Syukur, puji Tuhan. Ayo pulang, diantar satu-satu pulang. Waktu diantar pulang, lewat rumah dari keluarga ini. Semua mati, saudara. Mama saya nangis. Karena anak yang dia mau jemput itu ada di situ. Mukanya kelihatan, dia nggak mau lihat lagi. Papa mamanya mati, anak lima mati semuanya kena bom.

Siapa mau menyelamatkan nyawa, dia kehilangan. Tapi siapa berani kehilangan nyawa untuk Tuhan, dia akan mendapatkan nyawa. Saya tidak panjangkan firman Allah. Mari kita berdiri bersama-sama. 

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: