Pdt. Poltak YP Sibarani, D.Th.

Februari 2, 2009 pukul 11:20 am | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Peperangan Kita Melawan Roh Jahat

Pdt. Poltak YP Sibarani, D.Th*

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan saya sebelumnya di tabloid ini (edisi 92) dengan judul “Doa Pelepasan yang Sebenarnya”. Bagian kedua ini saya mulai dengan mengingatkan pembaca,

* Penulis adalah Pendiri Sekolah Pengkhotbah Modern (SPM), Ketua STT Lintas Budaya, dan Pendiri Jakarta Breakthrough Community (JBC).

bahwa: ”Peperangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan roh-roh jahat” (Ef. 6:12). Sifat dari roh-roh jahat adalah licik. Mereka penipu ulung dan super-jenius dalam hal kejahatan. Roh-roh jahat dapat mengadakan penipuan melalui kegiatan ‘doa pelepasan’.Misalnya, seseorang jatuh telentang ke tanah dan bergerak-gerak sedemikian rupa ketika didoakan. Bila kita tidak peka dan tidak jeli, maka kita akan menganggap bahwa orang tersebut sudah dilepaskan oleh Roh Kudus. Tetapi apa yang sesungguhnya terjadi? Sebenarnya, tidak dalam semua ‘doa pelepasan’ Roh Kudus bekerja, tetapi bisa sebaliknya, yaitu roh jahatlah yang bekerja untuk menipu dan mengacau. Maksud saya, bisa saja orang tersebut jatuh dan bergerak-gerak secara histeris karena roh jahat ‘menguasai keadaan’. Bisa saja roh jahat itu kelihatannya sudah keluar namun sesungguhnya masih tetap di dalam, atau ia keluar tetapi masuk lagi. Memang roh jahat tidak dapat dan tidak akan mengusir atau mengganggu roh jahat lainnya, seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 12:25-26. Sebab, bila roh jahat mengusir roh jahat maka ‘kerajaannya’ akan terpecah-pecah. Namun, dalam kelicikan dan dengan tipuannya, roh jahat dapat ‘keluar’ sebentar dan ‘masuk’ lagi dalam sekejap mata dari dan dalam tubuh seseorang. Hal ini sering terjadi pada praktek ‘doa pelepasan’ yang dilakukan secara gegabah, emosional, dan tanpa didahului pelayanan ‘konseling’.

            ‘Doa pelepasan’ dibutuhkan namun bukan manifestasi fisiknya yang lebih penting, melainkan terjadinya perubahan pola hidup orang tersebut. Doa pelepasan dibutuhkan namun tidak untuk semua masalah. Peperangan melawan roh jahat adalah peperangan rohani dan harus dilakukan dengan cara alkitabiah dan bergantung penuh kepada kekuatan dari Roh Kudus. Roh jahat adalah roh yang najis yang hanya dapat dikalahkan oleh Roh Allah yang kudus. Penggunaan kuasa Allah secara tepat, jitu dan efektif dibutuhkan dalam peperangan melawan roh jahat. Dalam peperangan, seorang tentara harus mampu menggunakan senjatanya secara tepat, berdasarkan kebutuhan, yang disesuaikan dengan jenis dan pelurunya. Adalah berlebihan jika untuk melawan seorang tentara musuh dalam peperangan dengan menggunakan bazooka padahal dapat menggunakan pistol kecil yang ada di pinggang, bukan? Jangan-jangan, bazooka tersebut juga akan membawa efek samping bagi tentara lain yang adalah teman sendiri. Demikian pula dengan peperangan rohani.

            Cara lain untuk memahami hal ini adalah memperhatikan ilustrasi berikut. Seorang pemuda jatuh ke dalam selokan air tanpa lumpur yang dalamnya 50 cm dan tidak mengalami luka serius. Ketika ia jatuh banyak orang di dekatnya yang melihat. Untuk meminta pertolongan, tentu tidak perlu ia berteriak-teriak histeris, sementara ia dapat berdiri kembali tanpa ditolong orang lain. Namun, kalau (memang) ia membutuhkan pertolongan, ia juga tidak perlu berteriak histeris agar ia tidak merepotkan banyak orang dan tidak membuat orang menertawainya karena dianggap lucu. Ia cukup meminta tolong dengan suara yang jelas. Orang yang menolongnya juga tentunya tidak perlu menghubungi polisi, membawa tangga dan alat derek, karena sebelah tangan cukup untuk menolongnya bangkit. Bukankah jatuhnya hanya 50 cm? Lalu mengapa harus mengambil tangga, menelepon polisi, dan berteriak histeris? Bila Anda mengalami hal seperti itu, Anda cukup menenangkan diri, lalu berusaha untuk bangun, bukan?

Demikian pula halnya dengan orang yang melakukan kesalahan, seperti mencuri nasi sepiring karena kelaparan. Orang seperti ini tentu tidak membutuhkan ‘doa pelepasan’, tetapi ‘cukup’ diberi pengarahan dari firman Tuhan dan diajak atau ditraktir untuk makan bersama. Bukankah orang tersebut mencuri karena lapar? Bagaimana jika ia datang ke gereja? Apakah Anda langsung mengadakan ‘doa pelepasan’? Bukankah seharusnya ia dikonseling lebih dahulu? Bukankah seharusnya kita bertanya mengapa ia mencuri dan apa yang membuatnya mencuri? Tidaklah logis jika hanya mencuri sepiring nasi karena lapar, langsung disebut sebagai ‘mencuri karena kebiasaan’, apalagi langsung dilayani dengan ‘doa pelepasan’. Menurut hemat saya, ia hanya membutuhkan kekuatan dari firman Tuhan. Dan, ajaklah dia makan  bersama. Selanjutnya, saya yakin bahwa ia tidak akan mencuri lagi karena hal yang sama. Kita memang sering sekali berlebihan dalam interpretasi, sehingga kita lebih sering ‘menghakimi’ daripada mencari solusi.

Namun, bila seseorang jatuh ke sumur yang sangat dalam, sepi, lembab, dingin, dan berair hingga sedada, tentulah persoalannya menjadi lain. Orang itu harus berteriak sekeras-kerasnya, agar orang lain mendengar dan menolongnya. Teriakannya yang keras untuk meminta tolong itulah yang menandakan kerendahan hatinya untuk mengakui bahwa ia memerlukan pertolongan. Ia tidak boleh diam dan tidak boleh mengandalkan kekuatannya sendiri. Ketika orang lain datang menolongnya, tentulah orang tersebut memerlukan alat-alat bantu, seperti tangga, tali tambang dan alat penerangan. Bila perlu harus ditelpon regu penolong (Tim SAR) atau polisi. Proses mengeluarkan orang tersebut tentunya akan berjalan lebih lambat dan lebih lama jika dibandingkan dengan seorang pemuda yang jatuh ke dalam selokan tak berlumpur tadi. Proses pengeluaran orang dari sumur akan semakin cepat bila kedua pihak, yang menolong dan yang ditolong bekerjasama. Ada kalanya orang yang jatuh itu histeris dan ketakutan, namun si penolong harus menenangkannya, dengan cara-cara yang menyejukkan, bukan membuatnya makin ‘terpojok’. Demikian pula dengan ‘doa pelepasan’. Katanya ‘pelayanan pelepasan’, namun mengapa justru membuat orang lain ketakutan? Ini masalah besar. Oleh sebab itu, jika kita secara semena-mena menghubungkan persoalan ‘ke atas’, maka akan semakin panjang pula akibatnya.  

            Bila seseorang ‘ditumbalkan’ oleh orangtuanya, maka orang tersebut adalah ‘korban’ dari kesewenang-wenangan. Anak yang ‘ditumbalkan’ oleh orangtuanya biasanya terjadi di luar kesadarannya. Bila demikian halnya, dalam konteks ini, maka si anak tersebut tidak dapat disebut sebagai orang yang turut berdosa seperti yang dilakukan oleh orangtuanya itu. Lalu, bagaimana selanjutnya? Katakanlah, pada akhirnya si anak akan mengalami cacat mental. Ketika si anak yang cacat mental ini melakukan suatu kesalahan karena mentalnya yang cacat, maka kesalahannya itu tentulah tidak dapat diperhitungkan sebagai kesalahannya sendiri, melainkan akan dituntut dari orangtuanya yang membuatnya sedemikian. Lain halnya jika si anak tidak cacat mental, namun secara sadar mengikuti kebiasaan buruk yang dilakukan orangtuanya, seperti sama-sama menyembah berhala atau sama-sama pelihara ‘tuyul’. Maka, tentulah si anak dan orangtuanya telah sama-sama berbuat dosa. Misalnya, si anak ditumbalkan sehingga ia mengalami cacat mental, dirasuk roh jahat lalu gila. Kalau kita menghubungkan hal ini dengan persoalan ‘masuk sorga atau masuk neraka’, maka saya memahami bahwa anak ini masuk sorga. Mengapa? Karena dia gila bukan karena perbuatannya. Beda dengan orang gila karena ia suka main jelangkung, suka main teluh, suka pikiran kotor, pornografi, suka memukuli orang  sampai akhirnya dia depresi, lalu menjadi gila. Namun, berbeda dengan seorang anak yang lahir sudah demikian keadaannya karena perbuatan orangtuanya. Bukankah anak seperti itu harus ditolong dan diselamatkan? Oleh sebab itu, kalau kita melihat peristiwa semacam ini, kita juga seharusnya melayani dan menginjili orangtuanya. Jangan sampai terlambat. Kalau tidak, kasihan sekali

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: