Pdt. Mangapul Sagala, D.Th.

Februari 2, 2009 pukul 11:37 am | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Logos Yohanes, Berasal dari Philo?

Mangapul Sagala

 Kata “logos” bukan kata asing di telinga kita. Di sekolah, kita telah mendengar dan mengetahui istilah “Biologi” atau “Astrologi” yang dibangun dari kata “logos” tsb. Pada kedua istilah tsb, kata “logos/logi” dimengerti sebagai “ilmu”.

Tapi sesungguhnya, kata “logos” merupakan kata dalam bahasa Yunani yang memiliki makna yang sangat luas.

Pada abad pertama, kata ini digunakan secara begitu luas dan dalam konteks yang sangat berbeda-beda. Karena itu, banyak usulan yang diberikan tentang makna kata “logos”. Secara umum, kata “logos” dimengerti sebagai “kata”, “uraian”, “kisah” atau ”pesan”.[1] Kata “Logos” diadopsi pada sekitar tahun 500 SM oleh Heraclitus, seorang filsuf Yunani, dan digunakan untuk menunjuk kepada sesuatu yang memberi bentuk, atau hidup kepada dunia materi. 

Bagaimanakah kata tsb digunakan dan dimengerti dalam Alkitab? Menurut Prof. James Dunn, kata “logos” merupakan unsur yang khas dan memiliki tempatnya sendiri dalam Perjanjian Baru, bahkan di dalam Injil Yohanes sendiri.[2] Secara statistik, kata Logos dalam Injil menunjukkan jumlah yang cukup berarti, di mana kata tsb digunakan sebanyak 128 kali (NA 27). Dari jumlah tsb, 40 kali ditemukan dalam Injil Yohanes, 32 kali dalam Injil Matius, 23 kali dalam Injil Markus dan 32 kali dalam Injil Lukas.

 

            Logos menurut Philo

Para ahli berpendapat bahwa dengan menentukan sumber dari bahasa yang digunakan oleh Yohanes, maka makna kata itu akan menjadi jelas. Berbagai teori telah muncul mengenai latar belakang Logos. Ada banyak jalur yang telah ditempuh untuk mencari latar belakang kata Logos yang digunakan oleh Yohanes.[3] Ada pendapat bahwa Yohanes meminjamnya dari Philo. Philo dari Alexandria adalah orang Yahudi (20 SM – 50 M) yang sangat dipengaruhi oleh Plato dan para penerusnya.[4] Tidak perlu diragukan bahwa kata Logos sangat penting bagi Philo, karena ia menggunakan kata itu lebih dari 1.400 kali dalam banyak tulisannya.[5]

Philo membedakan antara dunia yang ideal dengan dunia yang nyata (dunia fenomenal), di mana yang kedua hanya merupakan copy dari yang pertama. Istilah Logos mengacu pada instrumen untuk menciptakan dunia dan jembatan antara Allah yang transenden dengan dunia materi. Secara khusus, bagi Philo, Logos bisa mengacu pada manusia yang ideal, manusia yang asli, yang daripadanya semua umat manusia empris diturunkan.

Lebih jauh lagi, saat kita membaca tulisan Philo dengan teliti, kita akan menemukan bahwa konsepnya tentang Logos memiliki banyak kesamaan dengan Logos Yohanes. Saya akan mengutip di sini beberapa dari tulisannya tentang Logos:

“Karena diperlukan maka Logos ditunjuk sebagai hakim dan perantara, yang disebut “malaikat”. (Qu. Ex. II. 13) 

“ … mengikuti pimpinan dari pengertian itu (Logos) yang merupakan penterjemah dan nabi Allah”. (Immut. 138)

“… Logos, yang adalah anak sulung Allah, yang sulung di antara para malaikat, sejenis malaikat pemimpin … karena ia dipanggil, sang otoritas, dan nama dari Allah, dan Logos…” (Conf. 146).

 

 

 

Dari teks yang dikutip di atas, kita mengamati bahwa Philo menggambarkan  Logos sebagai pribadi yang sepenuhnya independen yang bertindak sebagai perantara antara Allah dan manusia. Ia berbicara tentang Logos sebagai perantara antara Allah dan ciptaan, antara Allah dan manusia. Philo berpendapat bahwa di dalam dan melalui Logoslah Allah menggapai ciptaan-Nya. Jadi, dengan berespons kepada Logos, manusia bisa datang sedekat mungkin kepada Allah.

Muhlenberg juga menulis pandangan Philo bahwa hanya di dalam dan melalui Logoslah Allah mulai memasuki area yang berada dalam jangkauan persepsi manusia.[6] Ada hal yang sangat menarik untuk diperhatikan, khususnya berkenaan dengan persamaan antara Philo dengan Injil  Yohanes. Philo juga berbicara tentang “anak sulung, Firman.” Ia bahkan berbicara tentang Allah yang kedua: “Tidak ada makhluk fana yang bisa diciptakan dalam keserupaan dengan Yang Tertinggi dan Bapa alam semesta, kecuali dalam diri Allah yang kedua, yaitu Logos-Nya (Qu. Gen. II. 62).

Selanjutnya, Ronald Williamson menunjuk kepada kedua kekuatan untuk membedakan Allah dari Tuhan, yaitu: Creative Power (Kuasa yang Kreatif) disebut Allah, sedangkan Royal Power (Kuasa yang Rajani) disebut Tuhan.[7] Kelihatannya, konsep Logos sebagai Allah yang kedua tsb, diambil Philo dari Perjanjian Lama: “Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri” (Kej. 9:6).[8] Philo juga berbicara tentang Allah dan tentang Logos sebagai model yang utama, tetapi Allah adalah satu-satunya pribadi yang utama, karena di atas Logos selalu ada Allah. Jadi, patut diperhatikan juga bahwa Philo berkata, “keberadaan yang paling awal adalah Allah. Setelah Allah, adalah Firman Allah” (leg. All. II. 86).

Bagaimana konsep Logos dari Philo, yang mirip dengan kekristenan itu dikaitkan dengan keyakinannya? Pengajaran tsb tidak bertentangan dengan monoteisme yang dianutnya. Logos adalah apa yang dapat dikenal dari Allah, Logos adalah Allah sejauh Dia bisa dipahami dan dialami. Bagi Philo, Logos yang ilahi adalah pikiran Allah yang menjadi penyataan, pertama-tama di dunia pikiran lalu di dunia pengertian.

 

            Serupa Tapi Tak sama

Adanya persamaan antara Philo dengan Yohanes telah membuat sebagian ahli menyimpulkan bahwa Logos dalam Injil Yohanes diambil atau dipinjam dari Philo. Namun sesungguhnya kesimpulan tersebut sangat lemah. Adanya persamaan pandangan antara Philo dan Yohanes tidak cukup untuk menjadi dasar untuk menyimpulkan demikian.  Selain adanya persamaan, ditemukan perbedaan yang sangat mendasar antara Logos dalam Prolog dan dalam tulisan-tulisan Philo.

Pertama, doktrin tentang kepribadian Logos sangat kabur dalam tulisan-tulisan Philo. Philo melihat Logos sebagai sesuatu yang tidak bermateri. Hal ini terlihat jelas terutama saat ia tiba pada asosiasi antara Logos dengan penciptaan. Philo tidak pernah berpikir tentang Logos sebagai pribadi yang nyata dengan fungsi khusus yang berbeda dengan Allah, karena baginya hanya Allahlah Sang Pencipta.[9]

Kedua, keberadaan Logos yang telah bereksistensi sebelum penciptaan, tidak eksplisit dalam tulisan Philo. Hal ini berlawanan dengan Yohanes, di mana eksistensi Logos sebelum penciptaan telah ditegaskan secara jelas dan tegas pada awal Prolog Yohanes.

 

Akhirnya, pengajaran tentang Logos dalam Injil Yohanes, jelas terletak pada doktrin inkarnasi. “Firman itu telah menjadi daging, dan tinggal di antara kita” (1:14). Pengajaran seperti ini tidak dimungkinkan dalam Philo. Philo memang memiliki pengajaran bahwa Logos mau berdiam untuk sementara dalam diri manusia, tetapi tidak berbicara tentang Logos yang menjadi manusia. Jika demikian, kesimpulan bahwa Logos dalam Injil Yohanes berasal dari Philo dapat ditolak dengan meyakinkan. Itulah sebabnya, para ahli mencoba mencari kemungkinan lain.v

 

 Catatan kaki

[1] D.H. Johnson, “Logos”, dalam Dictionary of Jesus and the Gospels, eds: Joel Green, Scott McKnight, I. Howard Marshall (Illinois: IVP, 1992), hal. 481-482. Lihat juga pembahasan L. Morris tentang “Logos” dalam catatan tambahannya, The Gospel, hal. 115-125.

[2]  James D. G. Dunn, Christology in the Making: An Inquiry into the origins of the Doctrine of the Incarnation (London: SCM Press, 1980), hal. 214.

[3] E. L. Miller, “The Johannine Origins”, hal. 448-449. Colin Brown, “The Meaning of Logos”, dalam NIDNTT, 3, (ed) Colin Brown (Grand Rapids, Mi: Zondervan, 1979),  hal. 1081-1119; D. H. Johnson, “Logos”, dalam Dictionary, hal. 481-484; Debruner, “Logos”, dalam TDNT, 4, hal. 73-77.

[4] Ellen Birnbaum, The Place of Judaism in Philo’s Thought: Israel , Jews, and  Proselytes (Atlanta, Georgia: Scholars Press, 1996), hal. 1. Lihat juga tulisan Folker Siegert tentang “Philo of Alexandria”, dalam Hebrew Bible Old Testament. The History of Its Interpretation, (ed), Magne Saebo (Gottingen:Vandenhoeck & Ruprecht, 1996), hal. 162-189.

[5] Dunn, hal. 220.

[6] E. Muhlenberg, “Das Problem den Offenbarung in Philo von Alexandrian”, dalam znw 64, 1983, hal. 1-18.

[7] Ronald Williamson, Jews in the Hellenistic World: Philo (Cambridge: Cambridge University Press, 1989), hal. 103-119.

[8] Ibid, hal. 107. Lihat artikel Folker Siegert tentang “Philo’s Theological Basis for the Interpretation of Scripture”, hal. 168-181.

[9] Dunn, Christology, hal. 227.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: